Tag Archives: Daun Bidara

Daun Bidara Untuk Detoks ?

TERAPI HERBAL DAUN BIDARA – DETOKS SPIRITUAL
Teh Daun Bidara
Beberapa saran dan teknis kami kumpulkan disini sebagai acuan untuk membersihkan badan /detoks dari segala kotoran negatif/energi negatif

Ini dilakukan untuk meningkatkan daya detoks Daun Bidara yang telah diketahui manfaatnya untuk tubuh secara umum. Juga menghancurkan sihir-sihir menahun yang merusak organ tubuh luar maupun dalam.

Teknik Detoks Spiritual Herbal Daun Bidara :
Mulai dengan niat ikhlas memohon kepada Allah SWT agar dibersihkan segala kotoran negatif atau energi negatif dalam badan
Ambil 7 atau 14 Daun Bidara , kemudian di cuci bersih dan ditiriskan
Memulai dengan membaca Ta’awudz
Daun Bidara ditumbuk dan dituangkan dalam sebotol air minum
Kemudian membacakan Al Fatihah , Surah Al Ikhlas , Surah Al Falaq and Surah An  Nas, Dilanjutkan dengan membaca  Ayat Kursi
dan meniupkannya pada botol air minum tersebut setiap selesai membaca Surah
Jika untuk sihir, maka bacakan ayat tentang sihir; Al A’raaf 117-122, Yunus 81-82, Thaha 69 , dan segera diminum ..

Teknis Detoks Kombinasi Daun Bidara dengan Garam
Ambil segelas Air dan larutkan 1 sendok teh garam serta Daun Bidara yang telah ditumbuk dan disaring , lalu bacakan Al Fatihah 7 kali dan surah Al Anfaal 1 kali atau lebih. Lalu doakan agar setiap partikel air tersebut menjadi balatentara yang akan memusnahkan semua energi negatif yang tersembunyi  dalam tubuh. Caranya bacakan ayat diatas dan doakan lalu tiupkan ke segelas air tadi dan minumkan saat itu juga.

Fungsi Terapi diatas adalah membuat air minum itu menjadi  media detoks spiritual dan membersihkan badan dari semua kotoran negatif
atas izin Allah SWT .

Ingat bahwa semua yang kita lakukan pada prinsipnya merupakan ikhtiar kita sebagai manusia dan agar semua ikhtiar yang kita lakukan menunjukkan kesungguh-sungguhan kita untuk berserah diri agar segera diberikan kesembuhan dari segala energi negatif atau kotoran – kotoran negatif dalam diri oleh Allah SWT Amin …

Diary Daun Bidara – Ruqyah

Diary Daun Bidara – Ruqyah

Dalam Diary Daun Bidara-Ruqyah ini saya coba menelusuri lebih dalam tentang cara pengobatan islami sesuai syariah karena ditempat kami begitu banyak orang-orang yang menggunakan label pengobatan islami namun menurut hemat kami secara awam ini semakin jauh ditelusuri semakin nampak bahwa semua berujung pada urusan materi semata dan jauh dari tujuan menggapai ridho Allah SWT 

Sebagai seorang yang berangkat dari akidah berbeda dan kini menjadi seorang muslim, saya sering mempertanyakan banyak hal yang nampak dipermukaan begitu lekat “dandanan Syariah nya” namun dalam realita , jauh dari tujuan menggapai ridho Allah SWT semata yang menjadi tujuan setiap gerak langkah ibadah kita

Kembai ke pokok masalah, saya temui bahwa definisi ruqyah secara istilah (syar’i) adalah berlindung diri dengan ayat-ayat Al Qur’an dan dzikir-dzikir serta doa-doa yang diajarkan oleh Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam.( SAW )

Beberapa syarat yang disebutkan oleh para ulama untuk membedakannya dengan ruqyah ruqyah yang bid’ah dan syirik. Bahkan mereka (para ulama, pen) telah bersepakat tentang syarat-syarat berikut ini : Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam “Fathul Bari” (10/240) :

SYARAT-SYARAT RUQYAH SYAR’I
Para ulama telah bersepakat tentang bolehnya meruqyah jika terkumpul 3 syarat, yaitu :
1. Ruqyah tersebut dilakukan dengan menggunakan kalamullah Subhaanahu wata’ala, dengan nama-namaNya dan sifat-sifatNya.
2. Ruqyah dilakukan dengan menggunakan bahasa arab atau dengan sesuatu yang diketahui maknanya dari selain bahasa arab.
3. Meyakini bahwa ruqyah itu tidak memberikan pengaruh dengan sendirinya tetapi dengan izin Allah Subhaanahu wata’ala.

Nah dalam sebagai tahap awal dalam diary daun bidara – Ruqyah ini saya mencoba merujuk Ruqyah yang dihubungkan dengan khasiat daun bidara untuk Ruqyah

Ibnu Kathir menyebutkan di dalam tafsirnya bahwa Al-Qurthubi menceritakan dari Wahab bahwa dia mengatakan,
“Ambillah 7 helai daun bidara lalu tumbuk di antara 2 batu kemudian dicampurkan dengan air dan dibacakan Ayat Kursi kemudian diminumkan kepada orang yang terkena sihir sebanyak 3 kali tegukan lalu dimandikan dengan air sisanya maka ia akan menghilangkan sihirnya. Terutama bagi suami yang terhalang menggauli isterinya.”

Ibnu Kathir mengatakan bahawa yang paling bermanfaat dalam menghilangkan pengaruh sihir adalah dengan menggunakan apa yang diturunkan Allah s.w.t. kepada RasulNya untuk menghilangkan hal itu yaitu membaca al-muawwidzatian (al-Falaq dan an-Nas) dan Ayat Kursi karena ayat-ayat itu dapat mengusir syaitan.

Dan diceritakan bagaimana cara terapi gangguan ini dengan Daun Bidara:
Ambil 7, 9, 11 atau lebih (dalam jumlah ganjil) helai daun bidara.
Tumbuk diantara dua batu dan dihaluskan.
Letakkan daun bidara yang telah dilauskan tadi ke dalam sebuah gelas.
Campurkan daun bidara bersama dengan air doa.
Membaca al-Fatihah dan Salawat.
Niatkan kesembuhan dan pulih dari segala gangguan. (Gunakan kaedah bacaan surah al-Fatihah dan berdoa sebelum ‘Ameen’).

Minum hanya 1/3 air bidara yang di dalam gelas.
Baki 2/3 digunakan untuk mandi.

Cara Mandi dengan Daun Bidara:
Waktu mandi adalah di antara waktu asar dan maghrib.
Pesakit hendaklah mandi seperti biasa dan pada akhir mandian itu, tuangkan kedalam bak 2/3 air bidara dan campurkan air biasa untuk memenuhi bak tersebut. Siram ke seluruh tubuh dan biarkan air di badan kering tanpa perlu mengelap badan.
Lakukan minum serta mandi selama 3 hari berturut-turut.

Demikian apa yang bisa saya kumpulkan dalam diary daun bidara- Ruqyah yang saya harap bisa memberi manfaat bagi yang mebutuhkan

Harapan saya bahwa kita semua bisa menjalankan terapi ini bagi diri sendiri keluarga dan saudara dan kerabat disekitar kita

Ps catatan saya adalah bahwa diatas semuanya kesembuhan itu karena izin dan kehendak Allah SWT semata dan porsi kita adalah melakukan ikhtiar semaksimal mungkin ..

Diary Daun Bidara Dua – Teh Daun Bidara

Diary Daun Bidara – Teh Daun Bidara 

Ini catatan lanjutan dari Diary Daun Bidara yang saya tulis sebelumnya dimana tulisan itu sendiri mengambil dari berbagai sumber sebagai referensi

Setelah mempelajari lebih jauh mengenai manfaat dari Pohon Bidara , baik Daun Bidara, Kayu Bidara dan Buah Bidara , kami dirumah menyiapkan bahan Daun Bidara 7 Lembar yang kami ambil dari kebun di belakang rumah ( kami selalu mendawamkan untuk menyebut Basmallah dan memohon keridhoan Allah SWT agar setiap lembar Daun Bidara yang kami petik menjadi media kesembuhan dari Allah SWT bagi kami )Daun Bidara Untuk Terapi

Daun Bidara tersebut dicuci bersih dan kami bacakan Surat Pembuka dan 3 Surat Terakhir Al-Qur’an sebelum kami rebus dengan 3 gelas air

Menunggu beberapa saat setelah air mendidih, kami biarkan agar air berkurang hingga menjadi kurang lebih satu gelas
Setelah dituangkan kedalam gelas, kami diamkan hingga hangat. Dan nampak rebusan Daun Bidara merubah air menjadi sedikit merah kecoklatan seperti warna teh

Alhasil, alhamdulillah, kami mulai memiliki menu baru Teh Daun Bidara dalam menu sore hari kami

Teh Daun BidaraUntuk informasi lain yang diperlukan , kami bisa share melalui email – mohon gunakan form disini 

Catatan :
* Menu Teh Daun Bidara diatas akan membantu juga untuk pembersihan darah

* Biji dan kayu bidara laut mengandung beberapa bahan kimia seperti alkaloid, tanin, galat, steroid ( triterpoid). Alkaloid yang dikandung tumbuhan ini adalah striknina dan brusina. Konsultasikan lebih lanjut untuk pemakaian jangka panjang !

Diary Daun Bidara – Satu

Diary Daun Bidara

‘Ada ketertarikan sendiri ketika berkumpul dengan rekan-rekan pecinta herbal saat membahas mengenai Daun Bidara ( Anda bisa temukan beberapa Posting  diBlog ini tentang Daun Bidara)
Daun Bidara sendiri yang berasal dari pohon dengan nama yang sama Pohon Bidara ( di Indonesia kita akan temukan lebih banyak Bidara Laut – Ziziphus Mauritiana) ternyata memang telah lama dikenal kegunaannya terutama dalam terapi pengobatan/terapi herbal alami

Pohon Bidara atau Widara (Ziziphus mauritiana) dikenal dengan berbagai nama daerah seperti Widara (Sunda, Jawa) ; Bukol (Madura); Bekul (Bali); Ko (Sawu); Kok (Rote); Kom, Kon (Timor); Bedara (Alor); Bidara (Makassar., Bugis.); Rangga (Bima); Kalangga (Sumba) atau Baiduri ( Lombok)

Nama yang berbeda juga dipakai di beberapa Negara yang memiliki jenis tumbuhan yang sama di antaranya: Bidara, Jujub, Epal Siam (Malaysia); Manzanitas (Filipina) Zee-pen (Burma); Putrea (Kamboja); Than (Laos); Phutsaa, ma tan (Thai); Tao, tao nhuc (Vietnam).

Nama lain yang digunakan dalam bahasa Inggris adalah Jujube, Indian Jujube, Indian plum, atau Chinese Apple; serta Jujubier dalam bahasa Prancis.

Sebagai seorang  yang baru mulai belajar mengenai Islam , saya mencoba untuk memulai sebuah buku harian herbal online khususnya mengenai Daun Bidara, Akar Bidara, Buah Bidara, Serbuk Daun Bidara atau berbagai herbal yang tumbuh disekitar kita dan yang telah saya gunakan sendiri untuk keluarga atau berdasar kisah sehat rekan-rekan pengguna herbal kesehatan alami

Kenapa mulai dengan Daun Bidara ?

Nama Pohon Bidara sendiri memang sudah termaktub di dalam Al-Qur’an di banyak tempat, di antaranya:

Dalam Surat An-Najm yang menceritakan kisah Mi’roj nya Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, beliau melihat Malaikat Jibril dalam bentuk aslinya dimana Jibril mempunyai 600 sayap.

Allah SWT berfirman:

( أَفَتُمَارُونَهُ عَلَى مَا يَرَى * وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى * عِندَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى * عِندَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى * إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى * مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى * لَقَدْ رَأَى مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى )

“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. (yaitu) di Sidratil Muntaha . Di dekatnya ada syurga tempat tinggal, . (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar”. (QS. An-Najm : 13-15)

Dalam Surat Al-Waqi’ah tentang kelompok kanan dari penghuni surga berada di bawah pohon bidara yang tidak berduri.

Allah SWT berfirman:

( وَأَصْحَابُ الْيَمِينِ مَا أَصْحَابُ الْيَمِينِ * فِي سِدْرٍ مَّخْضُودٍ * وَطَلْحٍ مَّنضُودٍ * وَظِلٍّ مَّمْدُودٍ * وَمَاء مَّسْكُوبٍ * وَفَاكِهَةٍ كَثِيرَةٍ )

“Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu. Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas,dan air yang tercurah, dan buah-buahan yang banyak,”QS. al-Waqi’ah (56) : 27-32

Dalam tafsir disebutkan pohon bidara yang dimaksud adalah yang telah dihilangkan durinya ataupun buahnya yang lebat, demikian pendapat Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhuma.

Berkata Ibnu Katsir rohimahulloh setelah menukil beberapa pendapat (tentang pohon bidara dalam ayat tersebut): Dhohirnya yang dimaksud adalah pohon bidara di dunia banyak durinya dan sedikit buahnya, adapun di akhirat kebalikannya, tidak ada durinya dan buahnya banyak.

Dalam Surat Saba ketika mengabarkan tentang kisah Negeri saba

Allah SWT berfirman:

( فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُم بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَى أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِّن سِدْرٍ قَلِيلٍ )

Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Bidara (QS. Saba :16)

Dan juga disebutkan dalam hadist dari Abu Daud dalam kita Adab-nya no. 4561

حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ أَخْبَرَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي سُلَيْمَانَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حُبْشِيٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَطَعَ سِدْرَةً صَوَّبَ اللَّهُ رَأْسَهُ فِي النَّارِ سُئِلَ أَبُو دَاوُد عَنْ مَعْنَى هَذَا الْحَدِيثِ فَقَالَ هَذَا الْحَدِيثُ مُخْتَصَرٌ يَعْنِي مَنْ قَطَعَ سِدْرَةً فِي فَلَاةٍ يَسْتَظِلُّ بِهَا ابْنُ السَّبِيلِ وَالْبَهَائِمُ عَبَثًا وَظُلْمًا بِغَيْرِ حَقٍّ يَكُونُ لَهُ فِيهَا صَوَّبَ اللَّهُ رَأْسَهُ فِي النَّارِ حَدَّثَنَا مَخْلَدُ بْنُ خَالِدٍ وَسَلَمَةُ يَعْنِي ابْنَ شَبِيبٍ قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي سُلَيْمَانَ عَنْ رَجُلٍ مِنْ ثَقِيفٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ يَرْفَعُ الْحَدِيثَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ

Telah menceritakan kepada kami Nashr bin Ali berkata, telah mengabarkan kepada kami Abu Usamah dari Ibnu Juraij dari Utsman bin Abu Sulaiman dari Sa’id bin Muhammad bin Jubair bin Muth’im dari Abdullah bin Hubsyi ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menebang pohon bidara maka Allah akan membenamkan kepalanya dalam api neraka.” Abu Dawud pernah ditanya tentang hadits tersebut, lalu ia menjawab, “Secara ringkas, makna hadits ini adalah bahwa barangsiapa menebang pohon bidara di padang bidara dengan sia-sia dan zhalim; padahal itu adalah tempat untuk berteduh para musafir dan hewan-hewan ternak, maka Allah akan membenamkan kepalanya di neraka.” Telah menceritakan kepada kami Makhlad bin Khalid dan Salamah -maksudnya Salamah bin Syabib- keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq berkata, telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Utsman bin Abu Sulaiman dari seorang laki-laki penduduk Tsaqif dari Urwah bin Az Zubair dan ia memarfu’kannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti hadits tersebut.”

dan kitab Adab-nya no. 4562

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ بْنِ مَيْسَرَةَ وَحُمَيْدُ بْنُ مَسْعَدَةَ قَالَا حَدَّثَنَا حَسَّانُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ سَأَلْتُ هِشَامَ بْنَ عُرْوَةَ عَنْ قَطْعِ السِّدْرِ وَهُوَ مُسْتَنِدٌ إِلَى قَصْرِ عُرْوَةَ فَقَالَ أَتَرَى هَذِهِ الْأَبْوَابَ وَالْمَصَارِيعَ إِنَّمَا هِيَ مِنْ سِدْرِ عُرْوَةَ كَانَ عُرْوَةُ يَقْطَعُهُ مِنْ أَرْضِهِ وَقَالَ لَا بَأْسَ بِهِ زَادَ حُمَيْدٌ فَقَالَ هِيَ يَا عِرَاقِيُّ جِئْتَنِي بِبِدْعَةٍ قَالَ قُلْتُ إِنَّمَا الْبِدْعَةُ مِنْ قِبَلِكُمْ سَمِعْتُ مَنْ يَقُولُ بِمَكَّةَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَطَعَ السِّدْرَ ثُمَّ سَاقَ مَعْنَاهُ

Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Umar bin Maisarah dan Humaid bin Mas’adah keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Hassan bin Ibrahim ia berkata, “Aku bertanya kepada Hisyam bin Urwah tentang menebang pohon bidara, saat itu ia sedang bersandar pada kayu milik Urwah, Hisyam lalu menjawab, “Apa pendapatmu dengan pintu-pintu dan mashari’ (daun pintu) ini, ia terbuat dari kayu bidara milik Urwah. Urwah memotongnya dari kebun miliknya.” Urwah berkata, “Itu tidak apa-apa.” -Humaid menambahkan- Hisyam bin Urwah lalu berkata (kepada Hassan bin Ibrahim), “Wahai orang Irak, itu (memotong pohon bidara tidak boleh) hanyalah bid’ah yang kamu bawa kepadaku.” Hassan berkata, “Aku lalu berkata, “Hanyasanya bid’ah itu datang dari kalian (wahai Hisyam), di Makkah aku mendengar seseorang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang yang memotong pohon bidara…. kemudian hadits tersebut disebutkan secara makna dengan lengkap.”

Ketika orang kafir masuk Islam.

Mengenai wajibnya hal ini terdapat dalam hadits dari Qois bin ‘Ashim radhiyallahu ‘anhu, berkata :

أَنَّهُ أَسْلَمَ فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَغْتَسِلَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ

“Beliau masuk Islam, lantas Nabi shollallahu ‘Alaihi wa sallam memerintahkannya untuk mandi dengan air dan daun sidr (daun bidara).” (HR. An Nasai no. 188, At Tirmidzi no. 605, Ahmad 5/61. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Saya sendiri tidak pernah memahami apa yang disebut sebagai suatu kebetulan di dunia ini. Karena semua kehidupan berjalan dalam suatu rancangan ksempurnaan Allah SWT semata

Jadi kalau Pohon Bidara sendiri memiliki kedudukan lebih dibanding tanaman lain, saya meyakini dari sisi bahwa semua bagian dari Pohon Bidara memiliki manfaat yang luar biasa

Ini adalah pendahuluan dari tulisan diary yang akan membahas lebih banyak lagi manfaat lain dari Daun Bidara bagi kehidupan Manusia  dan bagi kami yang tinggal di Bali Selatan daerah kering dimana cuaca yang Panas namun dengan curah hujan yang cukup menjadi ladang subur bagi pertumbuhan Pohon Bidara secara alami. Tentunya bukan kebetulan juga bukan ?

Kandungan Nutrisi Buah Bidara

Kali ini masih seputar Buah Bidara dimana sekilas kita bahas mengenai kandungan dari Buah Bidara segar

Dalam tabel berikut dapat dilihat komposisi kandungan dari Buah Bidara yang umumnya sebagai kultivar unggul diperjual belikan , atau untuk sebagian orang bahkan untuk dimakan langsung atau dijadikan minuman segar.

Di beberapa tempat, buah ini juga dikeringkan, dijadikan manisan, atau seperti yang dilakukan banyak industri rumahan dimana Buah Bidara yang telah dikeringkan akan dibentuk menjadi serbuk dan dikemas dalam kapsul untuk kepentingan pengobatan.

Untuk para remaja atau para Ibu, Buah muda biasa dimakan dengan garam atau dibuat menjadi rujak

Buah dari pohon yang meliar kecil-kecil dan agak pahit rasanya. Buah bidara merupakan sumber Karoten,

Vitamin A dan C

Jadi ada banyak manfaat yang bisa diperoleh dari Buah Bidara atau Daun Bidara yang memang memiliki kelebihan dibanding Tanaman lain Pada Umumnya

Bidara – buah segar
Nilai nurtrisi per 100 g (3.5 oz)
Energi 2.476 kJ (592 kcal)
Karbohidrat 17 g
- Gula 5.4-10.5 g
- Dietary fibre 0.60 g
Lemak 0.07 g
Protein 0.8 g
Air 81.6-83.0 g
Thiamine (Vit. B1) 0.02-0.024 mg (-2%)
Riboflavin (Vit. B2) 0.02-0.038 mg (-3%)
Niacin (Vit. B3) 0.7-0.873 mg (-5%)
Calcium 25.6 mg (3%)
Iron 0.76-1.8 mg (-14%)
Phosphorus 26.8 mg (4%)
 

Preview

Mau dicoba ?

Salam sehat dari kami …

Terapi Bidara Untuk Rematik

Terapi Kesehatan dengan Daun Bidara

Sifat Khas Pahit, mendinginkan, melancarkan peredaran darah, rnembersihkan darah, dan beracun. Khasiat Anti inflamasi, analgesik, dan diaforetik. PENELITIAN Supriadi, 1986. Jurusan Farmasi, FMIPA UNHAS. Telah melakukan penelitian pengaruh hipoglikemik rebusan kayu Bidara Laut terhadap kelinci. Dari hasil penelitian tersebut, ternyata bahwa pemberian rebusan 5, 10, 15, dan 25% dengan takaran 5 ml/kg bb, menyebabkan penurunan kadar gula darah masing-masing 16,49%; 20,23%; 36,04%; dan 43,96%. Pada pemberian tobultamid dengan takaran 250 mg/kg bb, menunjukkan penurunan kadar gula darah sebesar 44,72%. E.Y. Sukandar, Ny. N.C. Soegiarso, dan I. Payayuani. Farmakologi, Departernen Farmasi, ITB. Telah melakukan penelitian pengaruh infus Bidara Laut terhadap efek antiradang pada tikus putih Wistar. Untuk meradangkan tikus digunakan karagen. Dari hasil penelitian tersebut, ternyata infus Bidara Laut pada takaran tertentu mempunyai efek antiradang yang bermakna. Peringatan Simplisia mengandung striknina dan brusina. Takaran berlebih dapat menyebabkan kaku pada leher dan muka, napas pendek, dilatasi pupil mata, dan kejang. Tidak boleh digunakan untuk waktu lama.

Kegunaan Daun Bidara

-Menyegarkan kulit muka
-Membangkitkan nafsu makan
-Rematik (nyeri persendian)
-Sakit perut
-Bisul (obat luar)
-Kurap (obat luar)
-Radang kulit bernanah (obat luar)

Ramuan dan Takaran Daun Bidara

Menyegarkan raut muka:

Ramuan:
Kayu Bidara Laut 100 mg
Herba Pegagan segar 10 gram
Air mendidih 100 ml

Cara membuat: Dibuat infus atau diseduh.
Cara pemakaian: Diminum sehari 1 kali, 100 ml.
Lama pengobatan: Diulang selama diperlukan.

Rematik

Ramuan:
Kayu Bidara Laut 100 mg
Daun Jambu Mete muda 8 gram
Biji Seledri 2 gram
Air 100 ml

Cara pembuatan: Dibuat infus.
Cara pemakaian: Diminum sehari 1 kali, 100 ml.
Lama pengobatan: Diulang selama 14 hari.

Kurap, Bisul, dan Radang Kulit Bernanah

Ramuan:
Kayu Bidara Laut 500 mg
Daun Ketepeng 3 gram
Rimpang Kunyit 4 gram
Air 110 ml

Cara pembuatan: Dibuat infus.
Cara pemakaian: Dikompreskan pada bagian kulit yang sakit.
Lama pengobatan: Diperbaharui setiap 3 jam.